Senin, 02 Maret 2015

Proses Membaca dan Menulis

BAB I
PROSES MEMBACA DAN MENULIS
                   Membaca dan menulis saat ini dipandang sebagai suatu proses transaktif, dimana pembaca dan penulis menyusun sebuah makna yang diperoleh melalui pengalaman membaca dan menulis (Harste, Woodward, dan Burke, 1984; Rosenblatt, 1978). Menurut teori socio-psycholinguistic, makna diciptakan melalui sebuah proses negosiasi seorang pembaca terhadap teks yang dibaca, maupun seorang penulis terhadap teks yang mereka tulis.
Sebuah proses membaca terdiri atas berbagai tahapan saat pembaca menginterpretasi bacaan yang dibaca dan merespon teks atau kalimat yang dibaca. Proses menulis adalah proses yang melibatkan berbagai aktivitas, seperti saat siswa mengumpulkan dan mengorganisir ide/gagasan, membuat draft materi, merevisi dan mengedit draft, dan pada akhirnya mempublikasikan tulisan mereka.
Aktivitas membaca dan menulis dianggap sebagai suatu sisi lain dari sebuah koin, keduanya sangat berlawanan. Pembaca menterjemahkan dan mengurai bahasa dari sebuah tulisan, sedangkan penulis membuat bahasa tertulis. Kemudian para peneliti mulai mencari kesamaan pada keduanya. Sekarang keduanya dipandang memiliki beberapa kesamaan yaitu sebuah proses pararel pemaknaan memakai strategi yang sama dalam membuat makna dalam tulisan.
A.  PROSES MEMBACA
Membaca merupakan suatu proses transaktif ketika pembaca menegosiasikan makna atau menginterpretasikan. Weaver (1988) menyatakan bahwa selama membaca makna tidak begitu saja datang dengan sendirinya dari teks/bacaan ke pembaca, tetapi dalam  proses membaca terjadi negosiasi yang kompleks antara teks dan pembaca yang ditentukan oleh konteks situasi dan konteks sosiolinguistik yang luas. Konteks situasi meliputi pengetahuan pembaca tentang topik bacaan, tujuan membaca (untuk apa), dan faktor-faktor lain yang terkait dengan situasi pembaca. Konteks sosiolinguistik yang luas meliputi bahasa masyarakat tempat pembaca tinggal, seberapa miripkah dengan bahasa yang digunakan dalam teks/bacaan yang dibaca, budaya dari pembaca berdasarkan harapan saat membaca, serta harapan  pembaca  terhadap  kegiatan  membaca  berdasarkan  atas pengalaman-pengalaman yang pernah diperoleh.
1.    Konsep Eferen dan Estetik dalam membaca
Setiap pembaca mempunyai tujuan yang berbeda dengan pembaca lainnya. Oleh karena itu cara pendekatan dalam proses membaca bervariasi sesuai dengan tujuan mereka. Ada dua konsep dalam membaca, yaitu konsep eferen dan estetik.
a.    Konsep membaca estetik
Membaca untuk mencari hiburan atau kesenangan. Di sini, pembaca terlibat dalam pengalaman membaca, itu sendiri. Mereka berkonsentrasi  dan merespon pada pikiran, gambar, perasaan selama membaca teks atau buku dan mengaitkannya dengan pengalaman pribadi. Contohnya saat membaca buku “Diane Siebert’s Sierra (1991), mereka merespon tentang bahasa yang digunakan dalam buku tersebut.
b.    Konsep membaca eferen  
Membaca untuk mengambil informasi tertentu. Di sini, pembaca tidak tertarik pada irama bahasa atau gaya prosa namun fokus untuk memperoleh informasi tertentu dan berkonsentrasi pada publik, acuan umum dari kata-kata dan simbol dalam teks. Contohnya, yaitu anak/siswa membaca buku “ Patricia Lauber’s Seiing Earth From Space” (1990), yang didalamnya terdapat foto bumi yang menakjubkan yang diambil dari luar angkasa. Dalam kegiatam membaca itu siswa/anak focus kepada informasi dan ilustrasi yang ada di dalam buku.
2.    Tahap-tahap Proses Membaca
Proses membaca meliputi tahap-tahap sebagai berikut (1) persiapan untuk membaca (preparing to read), (2) membaca (reading),  (3) merespon (responding) (4) mengeksplorasi teks (exploring the text), dan (5) memperluas penafsiran (extanding the interpretation)
a.    Tahap 1: Persiapan untuk membaca
Proses membaca tidak dimulai dengan membuka buku dan langsung membaca, akan tetapi melalui sebuah persiapan. Langkah-langkah yang dilakukan adalah (1) memilih teks/buku (choose books), (2) menghubungkan teks dengan pengalaman pribadi dan pengalaman membaca yang pernah diperoleh sebelumnya (make connections), (3) membuat perencanaan membaca (plan for reading).
1)   Memilih teks/buku (choose books)
Pembaca mengawali proses membaca dengan pertama kali memilih buku atau teks yang ingin dibacanya. Ohlhausen dan Jepsen (1992) mengembangkan tiga kategori buku (Too Easy, Too Hard, Just Right) yang dikenal dengan istilah “Goldilocks Strategy”. Kategori Too Easy adalah buku yang sudah pernah dibaca sebelumnya atau buku yang sudah lancar dibaca. Kategori Too Hard adalah buku yang sulit, jarang dikenal, dan sering kali membingungkan pembacanya. Kategori Just Right adalah buku dengan sedikit kalimat yang tidak dimengerti, buku yang menyenangkan saat dibaca, dan sesuai dengan keinginan pembaca.
2)   Menghubungkan teks dengan pengalaman pribadi dan pengalaman membaca yang pernah diperoleh sebelumnya (make connections)
Pembaca menggunakan pengetahuan awal mereka, skema tentang buku atau teks yang akan dibaca, kemudian mereka menghubungkannya dengan pengalaman pribadi, pengalaman membaca sebelumnya dan mengaitkannya juga dengan tema yang akan dipelajari.

3)   Membuat perencanaan membaca (planing for reading)
Pembaca membuat prediksi sebelum memulai membaca tentang focus cerita, karakter atau kejadian dalam sebuah cerita, prediksi tentang informasi  yang ada di buku apakah sama dengan informasi yang kita cari. Dalam membuat perencanaan ini pembaca mungkin melihat index dalam buku untuk mengetahui halaman yang sesuai dengan informasi yang ingin kita cari, dan pembaca mungkin juga menterjemahkan teks yang mungkin dirasa sulit dimengerti dengan bertanya kepada guru atau dengan menggunakan bantuan kamus.
b.   Tahap 2 : Membaca (reading)
Pada tahap ini siswa membaca buku atau bentuk teks lainnya. Pada tahap ini siswa membaca keseluruhan teks atau bacaan. Sehingga siswa mampu mengkonfirmasi prediksi-prediksi yang telah dibuat sebelum membaca buku. Pada tahap ini siswa memaknai atas apa yang dibacanya dengan menggunakan beberapa strategi seperti visualisasi, elaborasi, dan monitoring. Ada lima jenis atau model membaca, yaitu (1) membaca nyaring (reading aloud), (2) membaca bersama (shared reading), (3) membaca berpasangan (buddy reading), (4) membaca terbimbing (guided reading), dan (5) membaca bebas (independent reading)
1)   Membaca nyaring (reading aloud)
Guru membacakan teks atau buku dengan nyaring dan siswa mendengarkannya. Jenis membaca ini dilakukan jika hanya ada satu buku atau teks sebagai sumber belajar.
2)   Membaca bersama (shared reading)
Siswa bersama-sama menirukan atas apa yang dibaca guru, atau siswa bersama-sama membaca buku di kelas tanpa ada guru yang membacanya. Membaca bersama ini dapat dilakukan apabila ada beberapa salinan buku di dalam kelas, atau tulisan yang ada di papan tulis.
3)   Membaca berpasangan (buddy reading)
Dua siswa membaca buku secara bersamaan. Kadang-kadang mereka bergantian membaca secara nyaring, kadang-kadang juga membaca dengan lirih. Tipe membaca ini sangat berguna untuk mereka yang mungkin belum lancar membaca sehingga mampu mengerti isi bacaan
4)   Membaca terbimbing (guided reading)
Siswa membaca buku dengan bantuan panduan atau bimbingan dari guru. Membaca terbimbing ini sangat berguna disaat siswa kesulitan dengan bacaan dan disaat siswa ingin menafsirkan bacaan tersebut
5)   Membaca bebas (independent reading)
Siswa bebas membaca buku atau teks apapun. Kadang antara siswa yang satu dengan lainnya sama-sama membaca buku yang sama , tetapi kadang-kadang juga berbeda. Siswa bebas menentukan buku apa yang ingin dibaca sesuai dengan tujuannya masing-masing, apakah membaca estetik atau membaca eferen.
c.    Tahap 3 : Merespon (responding)
Pada tahap ini pembaca merespon atas apa yang mereka baca dan selanjutnya mencoba memahami makna/isi yang terkandung di dalam bacaan tersebut. Ada dua hal yang harus dilakukan dalam tahap merespon ini, yaitu (1) menulis di dalam catatan membaca (writing in reading logs), (2) berpartisipasi dalam sebuah percakapan kelompok/besar (participating in grand conversation)
1)   Menulis atau merespon di dalam catatan membaca (writing in reading logs)
Siswa menulis dan menggambarkan ke dalam sebuah catatan (reading logs) tentang apa yang dipikirkan dan dirasakan setelah membaca.
2)   Berpartisipasi dalam sebuah percakapan kelompok/besar (participating in grand conversation)
Setelah membaca siswa saling berbagi dan berdiskusi dengan teman-temannya dalam sebuah kelompok tentang apa yang sudah dibacanya, apa yang dirasakan, dan apa yang dipikirkan
d.   Tahap 4 : Mengeksplorasi teks (exploring the text)
Setelah merespon atas apa yang telah dibaca, siswa kembali memperhatikan teks untuk menggali isinya secara lebih mendalam / analitis. Untuk itu siswa melakukan beberapa langkah-langkah yaitu:
1)      Membaca ulang buku/bacaan (rereading the text)
Membaca kembali bacaan atau teks untuk lebih memahami apa yang dibacanya serta mengaitkan dengan pengalaman hidup pembaca
2)      Menguji keahlian khusus penulis (examining the author's craft)
Fokus kepada karakter yang digunakan penulis dalam sebuah cerita, puisi
3)      Mempelajari kosakata baru (learning new vocabulary words)
Mempelajaridan memahami kosakata-kosakata baru yang terdapat dalam bacaan yang mungkin baru untuk pembaca
4)      Berpartisipasi dalam diskusi (participating in minilessons).
Siswa dan guru  berdiskusi tentang starategi, konsep, prosedur dan kemampuan yang terkait selama membaca
e.    Tahap 5 : Memperluas penafsiran dan mengaplikasikanya (extending the interpretation).
Pada tahap yang terakhir ini, yaitu memperluas penafsiran atau interpretasi, dapat dilakukan kegiatan-kegiatan:
1)   Memperdalam interpretasi dan pemahaman (deepen their interpretation)
2)   Merefleksikan pemahaman (reflect on their understanding)
3)   Menilai pengalaman membaca (value the reading experience)
Ketiga kegiatan itu dapat dilakukan dengan melibatkan keterampilan berbahasa yang lain, seperti berbicara dan menulis. Kegiatan seperti bermain peran/drama atau melakukan tugas/proyek khusus juga dapat dilakukan.
3.    Mengajar Proses Membaca
Guru menerapkan lima tahap proses membaca dalam pembelajaran membaca, mereka menggunakan beberapa metode pengajaran/penyampaian agar siswanya mampu memahami dan menerapkan apa yang guru ajarkan. Metode tersebut yaitu, (a) Diskusi atau pembelajaran singkat (minilesson), (b), Unit focus literature/sastra (literarure focus unit), (c) siklus tema (theme cycle) dan (d) workshop membaca (reading workshop)
a.    Pembelajaran singkat (minilesson)
Pelajaran singkat yang berfokus pada siswa, karena siswa membutuhkan pemahaman tentang proses membaca baik yang bertujuan mencari informasi atau estetik (efferent and esthetic) dan bagaimana siswa bisa memperdalam penafsiran dan mengaplikasikannya. Siswa diajarkan tentang prosedur, konsep, kemampuan dan strategi yang dibutuhkan dalam proses membaca, serta mampu mengapikasikan apa yang telah dipelajari melalui  kegiatan fokus literatur, workshop membaca dan siklus tema.
b.    Unit focus literature/sastra (literarure focus unit)
Sebuah unit Fokus sastra adalah pendekatan multi-genre yang mengajarkan seni bahasa, dengan berfokus pada tema tertentu, keterampilan, atau pedagogi. Melalui metode ini siswa belajar melalui lima tahap proses membaca. Mereka membaca bersama buku dan bab, kemudian mereka saling menanggapi apa yang mereka baca dan berpartisipasi dalam kegiatan eksplorasi. Siswa juga membuat proyek-proyek untuk memperluas interpretasi mereka atas buku yang dibaca.
c.    Siklus tema (theme cycle)
Metode ini menggunakan pendekatan tema dalam pembelajarannya. Buku yang dibaca disesuaikan dengan tema yang telah ditentukan sebelumnya. Contohnya tema pelajaran yaitu serangga, pada awal pelajaran siswa disuruh membaca buku “It’s a Good Thing There Are Insects (Fowler, 1990). Siswa melalui semua tahapan proses membaca dalam kegiatan ini.  Masih dalam tema serangga, guru juga bisa membagi kelas menjadi dua kelompok, satu kelompok membaca buku “ The Grouchy Ladybug” dan kelompok yang lain membaca buku “Ladybug”. Setelah mereka selesai membaca, mereka saling bertukar buku dan membacanya lagi. Setelah itu diadakan sebuah diskusi bersama tentang apa yang sudah mereka baca, mereka kemudian membandingkannya dengan kelompok lain. Siswa juga membuat proyek untuk memperdalam tentang pemahaman mengenai suatu hal tertentu yang menjadi fokus bacaan.
d.   Workshop membaca (reading workshop)
Seperti yang telah dibahas pada bab sebelumnya bahwa reading workshop terdiri atas tiga komponen, yaitu membaca dan merespon, saling berbagi, dan minilesson. Dengan metode ini siswa melalui semua tahap dalam proses membaca dalam mengikuti sebuah workshop membaca. Hal tersebut dapat dilihat pada saat, siswa memilih buku dan mencoba membuat hubngan dengan buku (tahap 1), membaca buku secara mandiri (tahap 2), setelah membaca buku siswa menulis dalam sebuah catatan (tahap 3), kemusian siswa membuat proyek berdasarkan bacaan (tahap 5). Jadi dengan metode ini siswa mampu memahami dan mengerti tentang proses membaca.
4.    Beradaptasi Untuk Memenuhi Kebutuhan Setiap Siswa Dalam Proses Membaca
            Aktivitas yang berlangsung dalam setiap tahap proses membaca dapat dapat diadaptasi untuk membantu setiap siswa menjadi pembaca yang lebih sukses.Bagi siswa yang memiliki keterbatasan kemampuan dan bagi mereka yang belajar bahasa Inggris sebagai bahasa kedua, banyak waktu yang dapat digunakan untuk mempersiapakan mereka untuk membaca. Oleh karena itu guru dapat membacakan teks/bacaan dikelas dengan nyaring atau bisa menggunakan membaca bersama bagi mereka yang kurang lancar membaca. Dalam tahap merespon, siswa dapat menggambarkan atau menuliskan apa yang dia “tangkap” selama membaca pada sebuah catatan. Siswa dapat membaca kembali buku dengan temannya selama tahap eksplorasi berlangsung. Pada tahap ke lima siswa mampu membuat proyek yang sesuai dengan isi bacaan.

B.  PROSES MENULIS
              Yang harus diperhatikan dalam proses menulis adalah pada apa yang siswa fikirkan dan melakukan apa yang dia tulis. Pada  dasarnya proses menulis  meliputi  lima  tahap,  yakni  (1) pramenulis, (2) menulis draf, (3) merevisi, (4) menyunting, dan (5) mempublikasikannya.
1.    Tahap-tahap menulis 
a.    Pra menulis (prewriting)
Pramenulis adalah tahap persiapan untuk menulis. Tahap ini sering kali diabaikan, padahal sebenarnya tahap ini menjadi dasar dan sangat penting. Menurut Murray (1982) 70 % waktu menulis dihabiskan dalam tahap ini. Adapun hal-hal yang dilakukan siswa dalam tahap ini adalah: (1) memilih topik (choose a topic), (2) mempertimbangkan tujuan, bentuk, dan pembaca (consider fuction, form, and audience), dan (3) mencari, memperoleh dan menyusun ide-ide atau topic yang ingin ditulis (generate and organize ideas for writing).
1)   Memilih topik (choose a topic)
Memilih topik untuk ditulis bisa menjadi batu sandungan bagi mereka yang telah terbiasa disediakan topik oleh gurunya. Tetapi siswa harus diajarkan untuk menentukan topik tulisannya sendiri. Apabila terdapat siswa yang kesulitan dalam menentukan topik, guru dapat membantunya dengan mengadakan brainstorming atau sumbang saran dengan memberikannya beberapa pilihan topik kemudian meminta siswa yang kesulitan memilih topik tersebut untuk memilih salah satu yang paling menarik dan paling dikuasai. Dalam kegiatan pramenulis ini siswa saling berdiskusi, menggambar, membaca, dan bahkan menulis untuk mengembangkan seputar informasi terkait dengan topic yang dia pilih.
2)   Mempertimbangkan tujuan, bentuk, dan pembaca (consider fuction, form, and audience)
2.1. Mempertimbangkan tujuan
Selama siswa mempersiapkan diri untuk menulis, mereka juga harus berfikir tentang fungsi atau tujuan atas apa yang mereka tulis. Apakah hanya untuk hiburan, informasi, atau kah fungsi yang lain. Pemahaman tentang fungsi dari menulis sangat penting karena fungsi/tujuan tulisan dapat mempengaruhi keputusan siswa dalam menentukan bentuk dan pembacanya.
2.2. Mempertimbangkan pembaca
       Siswa juga perlu merencanakan apakah mereka menulis untuk dirinya sendiri atau untuk orang lain seperti teman sekelas, adik, orang tua, nenek, kakek, atau yang lain.
2.3. Mempertimbangkan bentuk tulisan
Siswa juga harus mempertimbangkan tentang bentuk tulisan yang akan dibuat. Apakah berbentuk cerita, surat, puisi, atau jurnal penelitian. Penting kiranya dalam aktivitas menulis untuk menentukan satu bentuk tulisan saja.
Keputusan tentang bentuk, tujuan, dan pembaca saling mempengaruhi, missal jika tujuannya adalah untuk hiburan, bentuk yang tepat mungkin sebuah cerita, puisi
3)   Mencari, memperoleh dan menyusun ide-ide atau topik yang ingin ditulis (generate and organize ideas for writing)
Para siswa melakukan berbagai kegiatan untuk memperoleh dan menyusun ide-ide untuk menulis. Graves (1983) menyebut penulis mempersiapkan diri untuk menulis sebagai kegiatan persiapan (rehearsal activities), seperti  (1) menggambar (drawing),  (2) pengelompokan (clustering) , (3) berdiskusi (talking), (4) membaca (reading), (5) bermain peran (role playing), dan (6) menulis cepat (quickwriting).
a)    Menggambar (drawing)
     Kegiatan ini sangat cocok untuk anak kecil  atau anak sekolah dasar dimana anak menggambar untuk mengumpulkan dan mengatur ide untuk menulis.
b)   Pengelompokan (clustering)
     Siswa membuat pengelompokan, seperti diagram jaring-jaring, dimana siswa menulis topik utama di tengah dan memecahnya menjadi beberapa ide pokok. Setelah itu mereka menulis informasi detil pada setiap ide pokok.
c)    Berdiskusi (talking)
     Siswa saling berdiskusi dengan temannya untuk saling berbagi ide yang mngkin dapat dijadikan topik tulisan.
d)   Membaca (reading)
     Melalui membaca siswa mampu memperoleh informasi tentang apa yang akan dia tulis
e)    Bermain peran (role playing)
     Anak-anak menemukan dan membentuk ide yang akan digunakan untuk menulis melalui bermain peran
f)    Menulis cepat (quickwriting)
     Siswa dapat menuliskan ide-ide yang didapat melalui literature focus unit atau siklus tema menjadi materi yang siap untuk menjadi bahan tulisan.
b.   Penyusunan Draf (drafting)
Pada tahap penyusunan draf siswa menulis dan memperbaiki komposisi ide-ide melalui serangkaian draft. Siswa menuliskan ide-idenya ke dalam sebuah kertas. Karena penulis tidak memulai menulis dengan komposisi yang siap seperti yang disusun dalam pikiran mereka, siswa memulai menulis draf ini dengan ide-ide yang bersifat tentative yang dikembangkan melalui aktivitas pra menulis. Pada tahap membuat atau menyusun draf ini, lebih difokuskan pada bagaimana mengeluarkan ide-ide dengan sedikit perhatiannya pada aspek ejaan, penggunaan istilah, atau kesalahan penulisan lainnya. Selama proses penyusunan draft ini siswa dimungkinkan untuk memodifikasi keputusan awal mereka tentang bentuk, tujuan dan pembacanya. Aktivitas dalam tahap ini meliputi: 1) menulis draft kasar, 2) menulis konsep utama, dan 3) menekankan pada pengembangan isi.
c.    Merevisi (revising)
Pada tahap ini siswa memperbaiki ide-ide dalam komposisi mereka. revisi tidak sekedar memoles tulisan, tetapi lebih kepada memenuhi kebutuhan pembaca dengan menambahkan, mengganti, menghapus dan menata ulang bahan tulisan. Kegiatan-kegiatan pada tahap ini adalah: (1) membaca ulang draf kasar (rereading the rough draft), (2) berbagi tentang draf kasar dengan teman dalam kelompok (sharing the rough draft in a writing group), dan (3) merevisi berdasarkan umpan balik (revising on the basis of feedback)
1)   Membaca ulang draf kasar (rereading the rough draft)
     Setelah menyelesaikan draf kasar, siswa memerlukan waktu sehari atau dua hari menjauhkan diri dari draf mereka. Setelah itu, barulah siswa membaca kembali draf kasar mereka dengan pikiran atau pandangan yang segar.  Disaat siswa membaca, mereka  membuat beberapa perubahan  dengan menambah,  , mengganti, menghilangkan atau memindahkan bagian-bagian dalam draf dan mereka menempatkan tanda tanya pada bagian yang membutuhkan perbaikan. Dan dalam perbaikan inilah siswa dapat meminta bantuan kepada kelompok menulis (wriring groups)
2)   Berbagi tentang draf kasar dengan teman dalam kelompok (sharing the rough draft in a writing group)
Para siswa saling bertemu dalam kelompok-kelompok menulis untuk saling berbagi tentang materi tulisannya Dengan kelompok menulis ini diharapkan ada timbal balik yang dapat menghasilkan tulisan yang sesuai dengan kebutuhan pembaca. Kelompok-kelompok menulis ini memberikan ruang di mana guru dan siswa dapat membahas tentang rencana dan stategi dalam menlis dan merevisi tulisan (Applebee dn Langer, 1983: Calkins, 1983). Fungsi atau manfaat dari kelompok menulis ini yaitu :
a)    untuk menawarkan pilihan penulis
b)    untuk memberikan tanggapan, perasaan, dan pikiran
c)    untuk menunjukkan berbagai kemungkinan dalam merevisi
d)   mempercepat  proses revisi
     Kelompok ini dapat dibentuk secara spontan apabila sejumlah siswa sudah melengkapi susnan draf dan siap berbagi komposisi tulisan. Adapun kegiatan-kegiatan dalam kelompok menulis ini adalah:
a.    Penulis membaca tulisannya (the writer reads)
     Penulis membacakan hasil tulisannya di depan anggota kelompok. Teman satu kelompok mendengarkan baik-baik dan bersiap memberikan pujian dan saran-saran setelah penulis selesai membacakan tulisannya. Fokus utama pada kegiatan ini adalah mendengarkan dengan seksama apa yang dibacakan penulis
b.    Para pendengar (siswa lain) memberi pujian
     Pendengar memberikan pujian atau komentar positif yang spesifik atas apa yang disampaikan penulis
c.    Penulis membuat pertanyaan
     Penulis membuat pertanyaan tentang apa yang telah dibacakan kepada anggota kelompoknya, pertanyaan itu bertujuan untuk perbaikan apabila ada tulisan yang tidak tepat
d.   Pendengar memberikan saran
     Setelah penulis menanyakan apakah ada kekurangan atau kesalahan dalam tulisannya, para pendnengar memberikan saran positif untuk menjadikan tulisannya lebih baik
e.    Pengulangan proses
     Setiap siswa mengulangi komposisi tulisan. Pada proses ini guru memberikan masukan kepada siswa.
f.     Penulis merencanakan sebuah revisi
            Dalam kegiatan akhir ini, masing-masing siswa berkomitmen untuk merevisi tulisan mereka berdasarkan atas masukan dari teman ataupun guru.

3)   Merevisi berdasarkan umpan balik (revising on the basis of feedback)
Siswa membuat empat perubahan dalam tahap ini, yaitu penambahan, penggantian, penghilangan, dan pergeseran (Faigley dan Witte, 1981) . Misalnya, dalam menulis sebuah cerita, berkaitan dengan pembuatan struktur cerita yang telah disusun, siswa dapat mengubah watak pelaku yang semula jahat menjadi baik. Atau siswa dapat juga menyelipkan peristiwa lain dalam rangkaian cerita yang telah disusunnya.
d.   Penyuntingan (Editing)
Penyuntingan adalah menjadikan tulisan ke dalam bentuk akhirnya. Sampai pada tahap ini fokus utama adalah pada isi tulisan yang dibuat. Sampai tahap ini, fokus utama proses menulis adalah pada isi tulisan siswa dengan fokus berganti pada kesalahan mekanik. Siswa menyempurnakan tulisan mereka dengan mengoreksi ejaan dan kesalahan mekanikal yang lain. Tujuannya membuat tulisan menjadi “siap baca secara optimal” “optimally readable” (Smith, 1982). Cara paling efektif untuk mengajarkan ketermpilan mekanikal adalah pada saat penyutingan. Ketika penyuntingan tulisan disempurnakan melalui kegiatan membaca, siswa lebih tertarik pada pemakaian keterampilan mekanikal secara benar karena mereka dapat berkomunikasi secara efektif. Para peneliti menyarankan bahwa pendekatan fungsional dalam pengajaran mekanikal tulisan lebih efektif dari pada latihan praktis.
Aktivitas dalam tahap ini meliputi: 1) mengambil jarak dari tulisan, 2) mengoreksi awal dengan menandai kesalahan, dan 3) mengoreksi kesalahan.  Siswa  mungkin  melakukan penyuntingan untuk karangan sendiri atau membantu karangan milik temannya.
1)   Mengambil jarak dari tulisan
     Siswa akan menjadi penyunting yang baik jika mereka dijauhkan untuk sementera waktu dari karangan yang akan disunting. Setelah beberapa hari, siswa dengan keadaan yang lebih segar mampu menyunting  tulisannya  dengan  perspektif  baru sehingga hasil tulisannya akan dengan mudah dibaca
2)   Mengoreksi dengan menandai kesalahan
Siswa mengoreksi komposisi tulisannya untuk mengetahui letak kesalahan. Dalam proses ini siswa membaca dengan lambat, kata per kata untuk mencari kesalahan. Apabila ditemukan kesalahan-kesalahn maka ditandai dengan tanda khusus. Selain itu juga dapat menggunakan lembar checklist agar siswa lebih focus terhadap kesalahan yang ada di tulisan.
3)   Mengoreksi kesalahan
     Setelah diketahui letak kesalahan dalam tulisan yang dibuat, maka penulis segera memperbaiki kesalahan-kesalahan itu. Proses perbaikan itu sendiri dapat melibatkan orang lain untuk membantu, misalnya guru.
e.    Pemublikasian (publishing)
Pada tahap akhir proses penulisan, siswa membawa komposisi tulisannya ke dalam kehidupan nyata dengan mempublikasikan tulisan mereka ata dengan saling berbagi (sharing) dengan pembaca yang tepat. Ketika siswa membagi hasil tulisannya kepada teman sekelas, siswa lain, orangtua, dan berbagai komunitas, siswa itu bisa dianggap sebagai seorang penulis. Aktivitas pada tahap publikasi ini adalah:
1)   Membuat buku (make books)
     Salah satu cara yang paling popular untuk mempublikasikan karya tulis adalah dengan membuat buku. Buklet atau buku sederhana dapat dibuat dengan melipat selembar kertas menjadi empat, seperti kartu ucapan. Buklet juga dapat dibuat dengan menyatukan kertas hasil tulisan menjadi satu. Pada buklet tersebut juga dapat ditambahkan informasi tentang penulis “all about the author” pada lembar terakhir.
2)   Berbagi hasil tulisan (sharing writing)
Pada tahap publikasi siswa mempublikasikan hasil penulisannya melalui kegiatan berbagi hasil tulisan (sharing). Kegiatan berbagi hasil ini dapat dilakukan diantaranya melalui kegiatan penugasan siswa untuk membacakan hasil tulisannya/karangannya di depan kelas, dengan menaruh buku di kelas, perpustakaan, mempublikasikan melalui artikel koran, film, puppet show dan banyak bentuk lainnya. 
2.    Metode pembelajaran proses menulis (teaching writing process)
Siswa belajar untuk menggunakan proses penulisan pada saat mereka menulis komposisi di unit fokus sastra/bahas, siklus tema dan saat mereka berpartisipasi dalam sebuah pelajaran singkat (minilesson). Belajar menggunakan proses menulis dengan benar lebih penting daripada pemberian tugas atau proyek, karena proses menulis adalah sebuah alat.
a.    Model  kolaborasi menulis (writing class collaboration)
Guru sebagai model dalam proses menulis dan memberikan kesempatan bagi siswa untuk berlatih  proses menulis dalam lingkungan atau suasana pembelajaran yang mendukung. Seperti saat siswa dan guru menulis komposisi tulisan bersama, mereka melalui lima tahap proses menulis selayaknya seorang penulis ketika mereka bekerja secara independen. Guru menunjukkan strategi yang digunakan penulis dan menjelaskan kesalahan-kesalahan konsep selama diskusi  kelompok, dan siswa menawarkan ide-ide dalam menulis serta saran untuk mengatasi  berbagai masalah penulisan secara umum.


b.    Model Minnileson dalam proses menulis (minilesson in the writing process)
Pelajaran singkat (sekitar 10 menit) yang berfokus pada siswa, mengajarkan tentang prosedur, konsep, kemampuan dan strategi yang dibutuhkan dalam proses menulis. Guru menggunakan minilessons disesuaikan dengan kebutuhan kelompok kelas. Selama minilessons berlangsung guru menggunakan demonstrasi yang jelas dan pengajaran eksplisit untuk membimbing anak-anak dalam memahami tujuan pelajaran. Setelah demonstrasi, anak-anak berlatih. Penekanan khusus ditempatkan pada mengapa tujuannya adalah penting dan bagaimana penerapannya membuat seseorang menjadi lebih baik dalam menulis, siswa mampu memahami terhadap proses menulis. Dengan model ini siswa akan mampu memahami lima proses menulis, bagaimana menemukan dan mengumpulkan ide untuk bahan tulisan, bagaimana berpartisipasi dalam sebah kelompok menulis, dan mampu saling berbagi hasil tulisan dengan teman.
c.    Unit fokus literature/sastra (literarure focus unit)
Siswa menggunakan proses penulisan sama seperti saat mereka membuat proyek dalam proses membaca. Kadang-kadang siswa satu kelas bekerja bersama untuk menulis sebuah kolaborasi kelas, kadang-kadang siswa bekerja dalam sebuah kelompok kecil dalam satu proyek yang sama, dan di waktu yang lain siswa bekerja dalam banyak jenis tugas atau proyek yang harus dikerjakan.
d.    Model siklus tema
Guru selalu merencanakan pembelajaran menulis dengan mengaitkannya kepada tema tertentu. Suatu waktu siswa sekelas mengerjakan bersama-sama satu tugas yang sama, seperti membuat buku ABC tentang lautan sebagai bagian dari tema lautan., atau mereka menulis puisi tentang hewan untuk mengaitkan dengan pelajaran mematung di kelas seni. Akan tetapi kadang-kadang siswa juga mempunyai tugas individu, dan dalam tugas ini siswa menggunakan proses menulis untuk mengembangkan tulisannya.
e.    Workshop menulis (writing workshop)
Seperti yang telah dibahas pada bab sebelumnya bahwa workshop menulis terdiri atas tiga komponen, yaitu menulis, saling berbagi, dan minilesson. Dengan metode ini siswa melalui semua tahap dalam proses menulis dalam mengikuti sebuah workshop. Siswa melalui lima tahap proses menulis selama mengerjakan tulisannya. Dengan model ini pula siswa dapat saling berbagi tulisan, bertukar pendapat dan mendapat masukan atau saran. Jadi dengan metode ini siswa mampu memahami dan mengerti tentang proses menulis.
3.    Adaptasi proses menulis untuk memenuhi kebutuhan setiap siswa dalam belajar
Seorang guru dapat mengadaptasi kegiatan-kegiatan pada setiap proses menulis untuk memberikan pengalaman menulis yang baik bagi semua siswa. Untuk siswa kelas bawah dan untuk siswa yang memiliki pengalaman menulis yang sedikit guru seringkali mengajarkan tahapan proses menulis hanya pada tiga tahap yaitu pra menulis, penyusunan draf, dan publikasi. Kemudian setelah siswa menjadi lancar menulis dan sudah mengembangkan kesadaran pembaca, guru mulai menambahkan atau mengajarkan tentang merevisi dan mengedit tulisan.
Guru dapat mengembangkan atau menggunakan lembar checklist untuk mencatat setiap kegiatan pada proses menulis yang dilakukan siswa. Hal ini sangat bermanfaat, terutama pada siswa yang memiliki perhatian yang pendek dan bagi siswa yang memiliki masalah dalam menyelesaikan tugas. Dengan begitu siswa akan tetap mengerjakan dan menyelesaikan tugasnya dengan baik. Saran-saran yang lain dalam mengadaptasi proses menulis untuk memenuhi kebutuhan setiap siswa dalam belajar menulis yaitu :
Tahap
Hal-hal yang bisa dilakukan guru
Pra Menulis
·  Gunakan kegiatan menggambar sebagai kegiatan awal
·  Biarkan setiap siswa mengutarakan ide gagasan
·  Buatlah pengelompokan berdasarkan ide yang disarankan siswa
Penyusunan
Draf
·   Pastikan apakah siswa sudah membat draft kasar
·   menandai kertas siswa agar mereka menulis pada setiap baris
·   meyakinkan siswa bahwa ejaan dan keterampilan mekanis lainnya tidak penting dalam tahap ini
Revisi
·   guru berpartisipasi dalam kelompok menulis
·   fokus pada pujian daripada saran untuk revisi ketika siswa mulai menulis kelompok
·   mengharapkan siswa untuk membuat hanya satu atau dua revisi pada awal kegiatan
Editing
·    ajarkan ke siswa bagaimana mengkoreksi tulisan
·    pastikan siswa sudah menandai tulisan yang salah
·    guru dan siswa bersama mengoreksi kesalahan
·    pastikan siswa sudah dan memperbaiki kesalahan
Publikasi
·   tulis dengan tangan , hasil akhir tulisan siswa
·   beri kesempatan kepada siswa untuk dapat saling berbagi hasil tulisannya
·   jangan memperbaiki kesalahan yang masih ada pada hasil akhir




4.    Menanggapi hasil tulisan siswa (responding to student writing)
Peran guru tidak hanya sebagai evaluator. Kaitanya dengan hasil tlisan siswanya, guru harus mampu menjadi seorang pembaca yang baik (good audience). Guru seharusnya membaca hasil tulisan siswanya juga untuk mencari informasi, kesenangan, dan lain sebagainya seperti tujuan pembaca pada umumnya. Banyak karya tulisan siswa tidak perlu dinilaikan, tetapi hanya perlu untuk dibagi (share) dengan gurunya (Martin, D’Arcy, Newton, dan Parker, 1976).
Ketika siswa dalam menulis menggunakan proses menulis dengan benar, maka sedikit kesempatan untuk siswa menjiplak karya orang lain (plagiarisme). Ada beberapa alasan siswa melakukan plagiarisme, yaitu
a.    menginternalisasikan sebagian tulisan melalui pembacaan yang diulang-ulang, akhirnya waktu terus berlalu mereka tidak menyadari kalau itu bukan karya mereka
b.    adanya kompetisi antar penulis
c.    tidak sengaja menjiplak
d.   mereka tidak pernah di ajari bagaimana proses menulis yang benar itu, jadi mereka tidak tahu bagaimana mensintesa informasi yang diperoleh  dari tulisan orang lain. Ada dua cara menghindarkan siswa dari menjiplak (plagiarisme), yaitu
a.       mengajarkan proses menulis yang benar
b.      mengerjakan tugas menulis di sekolah daripada di rumah
5.    Menilai siswa dalam menggunakan proses penulisan
Untuk menilai perkembangan siswa  dalam menulis tidak harus dengan melihat hasil akhirnya (Tway, 1980). Salah satu cara terbaik adalah dengan melakukan observasi atau pengamatan selam proses menulis berlangsung. Proses observasi tersebut dapat dibantu dengan adanya daftar checklist proses menulis.

C.  HUBUNGAN ANTARA MEMBACA DAN MENULIS
Membaca dan menulis memiliki hubungan yang menarik. Membaca dan menulis keduanya adalah proses pemaknaan, pembaca dan penulis terlibat dalam proses yang hampir sama. Guru perlu mengadakan sebuah kegiatan literasi di kelas sehingga siswa mmapu menghubungkan antara membaca dan menulis.
1.    Membandingkan proses membaca dan menulis
Proses membaca dan menulis memiliki kegiatan yang hampir setara pada setiap tahapannya (Butler dan Turbill, 1984). Tierney (1983)  menjelaskan bahwa membaca dan menulis adalah sesuatu yang multidimensi dan terlibat bersamaan dalam transaksi antara penulis dan pembaca. Smith (1982) percaya bahwa membaca mempengaruhi kemampuan menulis, karena disaat membaca mereka tidak sadar bahawa membaca sama dengan menulis “read like writers”.
Tahap
Yang dilakukan pembaca
Yang dilakukan penulis
Tahap 1
Persiapan membaca
Pembaca menggunakan pengetahuannya tentang
· Topic
· Membaca
· Literature
· System bahasa
Harapan pembaca dipengaruhi oleh
· Pengalaman membaca sebelumnya
· Format bacaan
· Tujuan membaca
· Pendengar
Pembaca membuat prediksi
Pra menulis
Penulis menggunakan pengetahuannya tentang
· Topic tulisan
· Tulisan itu sendiri
· Literature
· System bahasa yang digunakan
Harapan penulis dipengaruhi oleh
· Pengalaman menulis sebelumnya
· Format tulisan
· Tujuan menulis
· Pembaca (audience)
Penulis mengumpulkan  dan menyusun ide
Tahap 2
Membaca
Pembaca :
· Menggunakan kata untuk strategi identifikasi
· Gunakan strategi pemaknaan
· Membaca
· Memaknai bacaan
Penyusunan draf
Penulis:
· Gunakan strategi transkripsi
· Gunakan strategi pemaknaan
· Menulis draf
· Menciptakan makna
Tahap 3
Merespon (responding)
Pembaca:
· Merespon bacaan
· Mengintepretasi makna
· Klarifikasi ketidakpahaman
· Memperluas gagasan
Revisi (revising)
Penulis:
· Merespon teks
· Menginterpretasi makna
· Klarifikasi kesalahan
· Memperluas gagasan/ide
Tahap 4
Mengeksplorasi/menggali teks
Pembaca
· Menguji dampak dari kalimat dan bahasa
· Menggali lebih dalam bacaan
· Membandingkan bacaan dengan bacaan lain
Edit (Editing)
Penulis:
· Mengidentifikasi dan mengoreksi kesalahan mekanis
· Mereview paragraph dan struktur kalimat
Tahap 5
Memperluas penafsiran dan mengaplikasikan
Pembaca :
·                     Memperluas penafsiran
·                     Berbagi hasil membaca
·                     Merefleksikan proses membaca
·                     Mengaitkan dengan kehidupan dan literature bacaan
·                     Menghargai karya sastra
·                     Merasa berhasil
·                     Ingin membaca kembali
Publikasi (publishing)
Penulis :
· Menghasilkan karya tulis final
· Berbagi karya tulis
· Merefleksikan proses menulis
· Menghargai karya tulisan
· Merasa berhasil
· Ingin menulis lagi
2.    Hubungan membaca dan menulis di dalam kelas (classroom connection)
Guru dapat membantu siswa untuk menghargai persamaan antara membaca dan menulis dengan berbagai cara.  Berikut ini adalah bebrapa cara untuk mengetahui hubungan antara membaca dan menulis, yaitu :
a.    Membantu penulis untuk melihat alternatif poin sehingga dia bisa menjadi pembaca juga
b.    Membantu pembaca untuk mempertimbangkan tujuan  dan sudut pandang penulis
c.    Simpulkan bahwa membaca prosesnya sama dengan menulis
d.   Berdiskusi dengan siswa tentang proses menulis dan membaca
e.    Berdiskusi dengan siswa tentang strategi menulis dan membaca
Pembaca dan penulis menggunakan beberapa strategi untuk membentuk makna. Sebagai seorang pembaca kita menggunakan berbagai macam variasi pemecahan masalah untuk menentukan tentang apa yang ingin disampaikan penulis dan memakanai bacaan untuk pembaca. Sebagai seorang penulis, kita juga menggunakan strategi pemecahan masalah untuk menentukan apa yang kira-kira pembaca inginkan saat kita mengkonstruksi makana dalam tulisan kita.
Langer (1985) ada empat strategi yang digunakan pembaca maupun penulis untuk berinteraksi dengan teks. Adapun strategi tersebut adalah
a.    Mengeneralisir ide
b.    Memformulasikan makna/isi
c.    Menilai
d.   Merevisi
Kemampuan membaca sangat berkontribusi terhadap perkembangan kemampuan menulis siswa, begitupun sebaliknya, menulis berkontribusi terhadap berkembangnya kemampuan membaca siswa. Shanahan (1988)  menguraikan  tujuh pembelajaran pokok untuk menghubungkan kemampuan membaca dengan menulis sehingga siswa mampu mengembangkan konsep tentang literatur .
a.    Melibatkan siswa dalam pengalaman menulis dan membaca setiap hari
b.    Perkenalakan proses membaca dan menulis di TK
c.    Rencanakan pembelajaran yang yang mencerminkan sifat perkembangan hubungan menulis dan membaca
d.   Membuat hubungan antara membaca dan menulis secara eksplisit kepada siswa
e.    Tekankan pada kedua proses (menulis dan membaca) serta hasil dari membaca dan menulis
f.     Tekankan manfaat kenapa siswa harus membaca dan menulis
g.    Ajarkan membaca dan menulis melalui pengalaman literature yang bermakna dan bermanfaat.
BAB II
KESIMPULAN
Para siswa menggunakan lima tahap dalam proses membaca, baik itu yang bertjuan untuk mencari informasi  (efferent) maupun estetik (aesthetic). Tahap –tahap tersebut yaitu persiapan membaca, membaca, merespon, mengeksplorasi teks/bacaan, memperluas atau memperdalam penafsiran dan pemaknaan. Guru hendaknya menggunakan pendekatan yang bervariasi untuk mengajarkan membaca kepada siswa. Pendekatan tersebut yaitu membacakan nyaring kepada semua siswa (reading aloud to student), membaca bersama-sama teman sekelas (sharing reading), membaca berpasangan (buddy reading), membaca terbimbing (guided reading), dan membaca bebas (independent reading)
Proses membaca terdiri dari 5 tahapan, yaitu pra menulis (prewriting), penyusunan draf (drafting), merevisi (revising), mengedit (editing), publikasi (publishing). Para siswa mempelajari penggunaan membaca dan menulis melalui unit  fokus literature (literqature focus units), siklus tema (theme cycle), dan workshop menulis dan membaca.
1.    Kunci Proses Membaca
a.    Tahap 1 : Persiapan Membaca
1)   Memilih buku
2)   Mengaitkan dengan pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki
3)   Kaitkan dengan tema pembelajaran atau sesuatu yang menarik
4)   Buatlah prediksi
5)   Preview teks atau bacaan
6)   Lihat ke dalam index untuk mengetahui halaman informasi  yang dicari
b.   Tahap 2 : Membaca
1)   Gunakan siklus konfirmasi dan prediksi
2)   Gunakan strategipengidentifikasian kata, dan pemaknaan
3)   Baca dengan teliti dan mendalam
4)   Baca atau lihat gambar, diagaram, tabel
5)   Baca dari awal sampai akhir
6)   Ulangi membaca untuk lebih mengetahui informasi
c.    Tahap 3 : Merespon
1)   Membuat catatan
2)   Catat informasi yang ada di buku dalam buku catatan
3)   Berpartisipasi dalam diskusi yang melibatkan banyak orang
d.   Tahap 4 :  Mengeksplorasi teks
1)   Membaca kembali dan berfikirlah lebih mendalam tentang isi bacaan itu
2)   Hubungkan dengan pengalaman pribadi
3)   Hubungkan dengan pengalaman membaca
4)   Ujilah hasil karya penulis (karakter, bahasa, dll)
5)   Identifikasi kutipan yang mengesankan
6)   Pelajari kosakata baru
7)   Berpartisipasi dalam minilesson
e.    Tahap 5 : Memperluas interpretasi/penafsiran
1)   Mengkonstruksi/membuat tugas
2)   Gunakan informasi dalam siklus tema
3)   Kaitkan dengan buku yang terkait
4)   Refleksikan dalam sebuah penafsiran
5)   Hargai pengalaman membaca
2.    Fitur Kunci Proses Menulis
a.    Tahap 1 : Pra Menulis (prewriting)
1)   Siswa menulis topic brdasarkan pengalaman
2)   Siswa mengikuti kegiatan persiapan
3)   Identifikasi tulisan itu ditujukan untuk siapa
4)   Identifikasi manfaat karya tulis yang akan dibuat
5)   Siswa menentukan bentuk tulisannya berdasarkan pembaca dan manfaatnya
b.   Tahap 2 : Penyusunan Draf (drafting)
1)   Siswa menulis draf  kasar
2)   Siswa menekankan isi dari pada aturan penulisan
c.    Tahap 3 : Merevisi (revising)
1)   Siswa membaca kembali draf yang telah dibuat
2)   Berbagi karya tulis dengan kelompok
3)   Berpartisipasi dalam diskusi
4)   Siswa membuat perubahan setelah mendapatkan saran dan masukan
5)   Siswa membuat  perubahan substantive
d.   Tahap 4 :  Mengedit (editing)
1)   Siswa mengoreksi komposisi tulisannya
2)   Siswa saling membantu mengoreksi komposisi tulisan teman sekelas
3)   Siswa memperbaiki tulisannya secara lebih mendalam termasuk tata tulisnya
4)   Siswa berkonsultasi dengan guru sebelum menyelesaikan tulisannya
e.    Tahap 5 : Mempublikasikan (publishing)
1)   Siswa mempublikasikan karyanya dalam bentuk yang tepat
2)   Siswa merbagi tulisannya di depan pembaca yang tepat




Lampiran
http://ecx.images-amazon.com/images/I/51KAkqeyyGL._SY300_.jpg










Gb 1. Proofreader’s Mark

Gb. 2 Writing Check list

Gb.3 Contoh Publikasi






Fitur Kunci Proses Membaca
0212.jpg                                                       0005FA1CNCCER                          B4051FE2:


























Tidak ada komentar:

Posting Komentar