Senin, 09 Maret 2015

Mengkaji Literatur


MENGKAJI LITERATUR
A.    Tinjauan Pustaka
Setelah studi pendahuluan selesai, peneliti tidak bisa segera melakukan penelitian begitu saja. Sebelum memulai penelitian, seorang peneliti harus benar-benar mengetahui tentang hal yang akan diteliti dengan cara mencari dasar-dasar acuan yang erat kaitannya dengan hal yang akan diteliti. 
1.      Pengertian tinjauan pustaka
Tinjauan pustaka atau disebut dengan studi kepustakaan  ini dilakukan untuk mencari dan mengorganisasi sumber-sumber pustaka yang berkaitan dengan permasalahan yang akan diteliti. Kegiatan ini wajib dilakukan dalam sebuah penelitian. Tinjauan pustaka merupakan ringkasan tertulis dari artikel jurnal, buku dan dokumen lain yang menggambarkan keadaan masa lalu dan informasi saat ini, mengatur literatur menjadi topik, dan mendokumentasikan kebutuhan untuk penelitian yang diusulkan. (Jhon W. Creswell, 2008:89)
Tujuan utama tinjauan pustaka adalah untuk mencari dasar pijakan atau fondasi untuk memperoleh dan membangun landasan teori, kerangka berpikir dan menentukan dugaan sementara atau sering pula disebut sebagai hipoesis penelitian, sehingga para peneliti dapat mengerti, melokasikan dan mengorganisasikan, dan kemudian menggunakan variasi  pustaka dalam bidangnya. (Sukardi, 2003:33) Berdasarkan tujuan tersebut, maka kajian pustaka ini berisi tentang  kajian teoritis yang pembahasannya difokuskan pada informasi sekitar permasalahan penelitian.

2.      Peranan studi pustaka
Studi pustaka memiliki peranan penting dalam suatu penelitian. Dengan melakukan studi pustaka, para peneliti mempunyai pengetahuan yang luas dan mendalam tentang permasalahan yang hendak diteliti. Studi pustaka mempunyai beberapa peranan (Ary dkk, 1985:56), diantaranya :
a.       Pengetahuan tentang penelitian-penelitian yang berkaitan memungkinkan peneliti menetapkan batas-batas bidang mereka.
b.      Pemahaman teori dalam suatu bidang memungkinkan peneliti menempatkan masalah dalam perspektif.
c.       Melalui penelaahan kepustakaan yang berkaitan, membantu untuk membatasi pertanyaan mereka dan untuk memperjelas dan menentukan konsep penelitian.
d.      Sebuah tinjauan kritis terhadap literatur terkait sering menyebabkan wawasan alasan untuk hasil yang kontradiktif di suatu daerah.
e.       Melalui belajar penelitian terkait, peneliti mempelajari metodologi yang telah terbukti berguna dan yang tampak kurang menjanjikan.
f.       Pengkajian yang cermat atas kepuatakaan yang berkaitan dapat menghindarkan terjadinya pengulangan studi sebelumnya secara tak sengaja.
g.      Pengkajian kepustakaan yang berkaitan menempatkan peneliti pada posisi yang lebih baik untuk menafsirkan arti pentingnya hasil penelitiannya sendiri.
Selain peranan studi pustaka yang disampaikan oleh Ary, Gaal juga menuliskan beberapa peranan studi pustaka (2003:90-91), antara lain :
a.       Membatasi peranan penelitian.
b.      Mencari baris baru penyelidikan.
c.       Menghindari pendekatan sia-sia
d.      Mendapatkan wawasan metodologis.
e.       Mengidentifikasi rekomendasi untuk informasi lebih lanjut
f.       Mencari dukungan untuk dasar teori

3.      Macam-macam sumber literatur
Kegiatan studi pustaka berkaitan erat dengan perpustakaan, karena dalam kegiatan ini paling banyak dilakukan di perpustakaan untuk memperoleh literarur yang relevan. Sumber literatur dapat kita peroleh dari :
a.       Jurnal penelitian.
Jurnal penelitian merupakan sumber utama dan mempunyai nilai sangat penting dibanding dengan sumbe informasi lainnya. Jurnal penelitian berisi hasil penelitian yang dapat digunakan sebagai acuan ilmu pengetahuan yang baru.
b.      Laporan hasil penelitian.
Laporan hasil penelitian dapat berupa tesis maupun disertasi. Kutipan dari tesis atau disertasi hanya diperbolehkan untuk temuan/hasil penelitian dan tidak diperkenankan mengutip konsep atau teori yang ada pada tesis atau disertasi.
c.       Surat kabar atau majalah
Informasi dari surat kabar dan majalah merupakan informasi yang sifatnya populer, maka para peneliti dianjurkan untuk lebih dahulu mengevaluasi isi yang hendak diambil. Cara yang paling sederhana dan tetap efektif untuk diterapkan dalam mengevaluasi sumber informasi adalah dengan menanyakan seperti berikut :
1)      Apakah (what) isi dari surat kabar atau majalah relevan dengan permasalahan yang hendak dipecahkan dalam penelitian?
2)      Siapakah (who) penulis atau nara sumber yang telah menuliskan pokok bahasan mempunyai kriteria, sebagai profesional, akademisi, atau sumber utama dalam suatu bidang tertentu?
3)      Bagaimanakah (how) penulis mengutarakan pokok bahasan dalam surat kabar tersebut mengacu? Mereka mengacu dengan objektivitas keilmuan dan subjektivitas yang diutamakan.
4)      Kapan (when) karya tulis tersebut dicetak atau diterbitan?
5)      Mengapa (why) penulis menguraiakan pendapatnya dalam surat kabar/ atau majalah?




d.      Buku yang relevan.
Sumber pustaka ilmiah yang lain adalah buku yang secara resmi telah dipublikasi atau telah menjadi pegangan dalam mempelajari suatu bidang ilmu. 
e.       Artikel dari internet.
Artikel yang diambil dari internet harus bersumber dari website dari kelompok kajian atau dari penulis yang mempunyai reputasi, bukan dari blog seseorang yang belum dikenal kepakaranya. Salah satu pusat informasi yang dapat kita temukan dalam internet yaitu ERIC (Educational Resource Information Center).
ERIC merupakan sumber-sumber informasi pendidikan. Lembaga ini dibentuk pada tahun 1964 oleh U.S. Office of Education (USOE) di Amerika Serikat. ERIC didirikan dengan tujuan untuk mengumpulkan, menyimpan dan menyebarkan informasi tentang pendidikan.
ERIC menerbitkan hard copy dan versi elektronik dari dua sumber awal : Current Index to Journals in Education (CIJE) dan Resources in Education (RIE). CIJE indeks artikel di ratusan jurnal pendidikan terkait. Sebaliknya, RIE indeks berbagai dokumen non-journal : makalah yang disajikan pada konferensi pendidikan, laporan kemajuan studi yang sedang berlangsung penelitian, laporan teknis pada studi yang disponsori oleh program penelitian federal, dan laporan proyek yang dilakukan oleh sekolah dan lembaga lokal lainnya. (Meredith D Gall, dkk. 2003:93)
 





4.      Langkah-langkah dalam melakukan kajian pustaka
Agar lebih mudah dalam mengorganisasi kajian pustaka, perlu dilakukan langkah-langkah sebagai berikut (Ary dkk,1985) :
a.       Mulai dengan materi hasil penelitian yang secara sekuensi diperhatikan dari yang paling relevan, relevan, dan cukup relevan. cara lain juga dapat dilakukan dengan melihat tahun penelitian yang diawali dari yang paling mutakhir dan berangsur-angsur mundur ke tahun-tahun yang lebih lama.
b.      Membaca abstrak dari setiap penelitian lebih dahulu untuk memberikan penilaian apakah permasalahan yang dibahas sesuai dengan yang hendak dipecahkan dalam penelitian.
c.       Mencatat bagian-bagian penting dan relevan dengan permasalahan penelitian. Untuk menjaga agar tidak terjebak dalam unsur plagiat, para peneliti hendaknya juga mencatat sumber-sumber informasi dan mencantumkannya dalam daftar pustaka, jika memang informasi berasal dari ide atau hasil penelitian orang lain.
d.      Buatlah catatan, kutipan, atau salinan informasi dan susun secara sistematis sehingga peneliti dengan mudah dapat mencari kembali jika sewaktu-waktu diperlukan. Dianjurkan para peneliti untuk menulis kutipan dalam kartu kira-kira ukuran 7.5 X 10 cm dengan pengaturan muka pertama untuk sumstansi kutipan, muka sebaliknya untuk catatan sumber kutipan.
e.       Atur kartu-kartu tersebut menurut abjad atau katalog yang telah dibuat sesuai dengan interes peneliti, agar mudah dalam mencari bila sewaktu-waktu diperlukan.
f.       Tulis juga pada kartu sebaliknya, dari mana sumber tersebut diambil secara lengkap dan teliti.
g.      Yakinkan bahwa isi acuan tersebut dikutip secara langsung, diringkas atau diuraiakn dengan menggunakan bahasa sendiri. Hal yang demikian perlu dilakukan agar peneliti terhindar dari plagiator (penjiplak).
Selain langkah-langkah di atas, menurut Gaal (2003:92), terdapat beberapa tahapan dalam melaksanakan tinjauan pustaka antara lain :
a.       Mencari sumber-sumber awal
b.      Menggunakan sumber-sumber sekunder
c.       Membaca sumber primer
d.      Mensintesis literatur

B. Perumusan Hipotesis
1.      Pengertian Hipotesis
Perumusan hipotesis penelitian merupakan langkah ketiga dalam penelitian, setelah peneliti mengemukakan landasan teori dan kerangka berfikir. Ada beberapa tujuan mengapa hipotesis perlu dirumuskan, salah satunya memberikan arah kepada penelitian. Selain itu, hipotesis dapat memberikan kerangka untuk melaporkan kesimpulan dari penelitian. Tetapi perlu diketahui bahwa tidak setiap penelitian harus merumuskan hipotesis. Penelitian yang bersifat eksploratif dan diskriptif sering tidak perlu merumuskan hipotesis.
Hipotesis adalah seperangkat yang ampuh dalam pendidikan ilmiah. Menurut Ari, dkk  (1985:75) hipotesis adalah bentuk pernyataan sementara yang diajukan untuk pemecahan masalah atau menjelaskan suatu gejala. Hipotesis mengemukakan pernyataan tentang harapan peneliti mengenai hubungan antar variabel dalam suatu penelitian.
Sama halnya dengan Ari, dkk,  McMillan dan Schumacher menyatakan bahwa hipotesis penelitian adalah pernyataan tentatif tentang hubungan yang diharapkan antara dua variabel atau lebih (McMillan dan Schumacher, 2010:62)
Sedangkan menurut Creswell (2008:122) hipotesis adalah pernyataan dalam penelitian kuantitatif dimana peneliti membuat prediksi atau dugaan tentang hasil hubungan antara atribut atau karakteristik. Dari pernyataan Creswell tersebut peneliti harus bisa membuktikan prediksi yang dibuat berdasarkan hasil penelitian.
Sementara menurut Goode dan Han dalam Nanang Martono (2011:64) hipotesis merupakan sebuah proposisi yang harus dimasukkan untuk menguji dan menentukan validitas; sebuah hipotesis menyatakan apa yang akan dicari.
Secara mudahnya hipotesis dapat kita katakan sebagai jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian, dimana rumusan masalah penelitian telah dinyatakan dalam bentuk kalimat pertanyaan. Dikatakan sementara karena jawaban yang diberikan baru didasarkan pada teori yang relevan, belum didasarkan pada fakta-fakta empiris yang diperoleh melalui pengumpulan data. Jadi hipotesis juga dapat dinyatakan sebagai jawaban teoritis terhadap rumusan masalah penelitian belum jawaban yang empirik dengan data. Selain sebagai jawaban sementara, hipotesis dapat dikatakan sebagai ramalan, namun ramalan yang paling mendekati dasar teorinya. Oleh karena itu ketepatan ramalan tadi sangat tergantung pada landasan teori yang dipergunakan.
Penelitian yang merumuskan hipotesis adalah penelitian yang menggunakan pendekatan kuantitatif. Pada penelitian kualitatif tidak dirumuskan hipotesis tetapi justru diharapkan dapat ditemukan hipotesis. Selanjutnya hipotesis tersebut akan diuji oleh peneliti dengan menggunakan pendekatan kuantitatif.

2.      Kegunaan Hipotesis
Hipotesis merupakan alat yang sangat besar kegunaannya dalam penyelidikan ilmiah. Menurut Ari, dkk (1985:76-77) kegunaan hipotesis antara lain:
a.       Hipotesis memberikan penjelasan sementara tentang gejala-gejala serta memudahkan perluasan pengetahuan dalam suatu bidang.
b.      Hipotesis memberikan suatu pernyataan hubungan yang langsung dapat diuji dalam penelitian.
c.       Hipotesis memberikan arah kepada penelitian.
d.      Hipotesis memberikan kerangka untuk melaporkan kesimpulan penyelidikan.

3.      Saran untuk Memperoleh Hipotesis
Menurut Ari, dkk (1985:77-78) hipotesis dapat diperoleh dengan dua cara, yaitu:
a.       Hipotesis induktif
Dalam prosedur induktif, peneliti merumuskan hipotesis sebagai suatu generalisasi dari hubungan-hubungan yang diamati. Maksudnya, peneliti melakukan pengamatan terhadap tingkah laku, memperhatikan kecenderungan-kecenderungan atau kemungkinan adanya hubungan-hubungan, dan kemudian merumuskan penjelasan sementara tentang tingkah laku yang diamatinya.
b.      Hipotesis deduktif
Berbeda dengan hipotesis yang dirumuskan sebagai generalisasi dari hubungan yang diamati, ada hipotesis yang ditarik secara deduktif dari teori. Hipotesis ini mempunyai kelebihan dapat mengarah pada sistem pengetahuan yang lebih umum, karena kerangka untuk menempatkannya secara berarti ke dalam bangunan pengetahuan telah ada dalam teori itu sendiri. Ilmu tidak dapat berkembang secara efisien kalau setiap studi tetap merupakan upaya yang terpisah-pisah: Ilmu menjadi komulatif dengan membangun di atas kumpulan fakta dan teori yang ada. Hipotesis yang berasal dari suatu teori dikenal sebagai hipotesis deduktif.

4.      Karakteristik Hipotesis yang Baik
Menurut Ari, dkk ( 1985:80-82) karakteristik hiposesis yang baik adalah :
a.       Sebuah hiposesis harus memiliki kekuatan penjelas;
b.      Sebuah hipotesis harus menyatakan hubungan yang diharapkan antar variabel;
c.       Sebuah hipotesis harus dapat diuji;
d.      Sebuah hipotesis harus konsisten dengan pengetahuan yang ada;
e.       Sebuah hipotesis harus sederhana dan seringkas mungkin.

5.      Macam-macam Hipotesis
Hipotesis yang biasanya digunakan dalam penelitian ada dua macam, yaitu :
a.       Hipotesis Penelitian atau Hipotesis Alternatif (Ha)
Hipotesis penelitian merupakan pernyataan tentang harapan yang akan diperoleh dalam suatu penelitian.
Hipotesis penelitian dibagi menjadi dua, yaitu :
1)    Hipotesis terarah
Hipotesis terarah merupkana hipotesis yang telah menentukan arah kesimpulan yang diharapkan.
Contoh : kecepatan lari siswa laki-laki lebih tinggi dari pada siswa perempuan.
2)    Hipotesis tak berarah
Hipotesis tak berarah merupkana hipotesis yang tidak menentukan arah kesimpulan yang diharapkan.
Contoh : ada perbedaan kecepatan lari siswa laki-laki dan perempuan.
b.      Hopotesis Nol (Ho)
Hopotesis Nol merupakan hipotesis yang menyatakan bahwa tidak ada hubungan antar variabel penelitian. Hipotesis nol merupakan sangkalan atau kebalikan dari hipotesis penelitian. Hipotesis nol sering juga disebut hipotesis statistik, karena biasanya dipakai  dalam penelitian yang bersifat statistik, yaitu diuji dengan penghitungan statistik.
Contoh : tidak ada hubungan jenis kelamin terhadap kecepatan lari siswa.





6.      Menguji Hipotesis
        Menurut Ari, dkk (1985:85-86) langkah-langkah menguji hipotesis adalah:
a.       Menarik kesimpulan tentang konsekuensi-konsekuensi yang akan dapat diamati apabila hipotesis tersebut benar.
b.      Menentukan Hipotesis nol.
c.       Memilih metode-metode penelitian yang akan memungkinkan pengamatan, eksperimentasi, atau prosedur lain yang diperlukan untuk menunjukkan apakah akibat-akibat tersebut terjadi atau tidak.
d.      Mengumpulkan dan menganalisis data empiris.
e.       Menentukan apakah bukti-bukti yang cukup untuk menolak Hipotesis nol.




DAFTAR PUSTAKA

Ary, D., Jacobs,L.C, Razavieh,Asghar (1985) Introduction to Research and Education. New York : CBS College Publishing.

Creswell, Jhon W., (2008) Education Research : Planing, Conducting and Evaluating Quantitative and Qualitative Research, New Jersey : Pearson Education, Inc

Gall, M.D., Gall,J.P., Borg W.R. (2003) Educational Research : An Introduction. New York : Pearson Education.

Martono, Nanang, (2011) Metode Penelitian Kuantitatif. Jakarta : Rajawali Pers.

McMillan, H.James dan Schumacher, Sally, (2010) Research in Education:Evidence-Based Inquiry Seventh Edition, New Jersey : Pearson education

Sukardi, (2013) Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar